Sunday, August 10, 2008

“Mereka Membenci “Al-Qur’an””

Aku tersentak ketika membuka situs idolaku www.hidayatullah.com (Minggu, 10 Agustus 2008). Diberitakan di dalamnya bahwa Lembaga Urusan Agama Turki “menutup” 1.817 kelas pembelajaran Al-Qur’an. Alasannya sangat simplistic: “Mereka tidak memiliki izin resmi dari pihak berwenang.”
(http://hidayatullah.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=7381&Itemid=1).

Luar biasa! Dan ini bukan hal yang “enah” dan baru. Karena Turki adalah negara “Sekuler Kaffah”. Murni sekuler. Aneh bin ajaib, jika kelas pembelajaran Al-Qur’an harus ditutup hanya karena tidak punya izin resmi. Jika begitu, lembaga urusan agama Turki tidak mengertai “kerjaannya” sendiri. Bahwa urusan agama harus mengerti anasir agama Islam, yaitu Al-Qur’an Al-Karim.

Sebagai negara sekuler “kaffah”, Turki harus membuang segala atribut yang berbau Islam. Bapak mereka sendiri, Musthafa Kamal Attaturk(1880-1938) memang sangat membenci Islam. Aku baru saja membeli buku Kamal Attaturk: Pengusung Sekulerisme dan Penghancur Khilafah Islamiyah (Juli, 2008) karya Dhabith Tarki Sabiq. Di dalamnya (hlm. 239) dinyatakan bahwa Attaturk dalam mengatur Turki memberlakukan dua hal penting: Undang-undang Sipil dan Sekulerisme. Yang pertama: penetapan tidak adanya kaitan antara negara dengan agama. Dan yang kedua: penjauhan atas apa yang dinakaman dengan Undang-Undang Sipil –dimana dialah yang membentuk hak-hak dasar dan ukurannya dalam masyarakat—dari hubungan dan hak-hak dasar dalam Islam.

Aku ingin mengutip satu kisah menarik mengenai sekulerisme dari buku di atas (hlm. 244). Dalam catatan harian Kilij Ali –yang merupakan salah seorang yang ikut celaka bersama Musthafa Kamal—bagaimana segala sesuatunya terlaksana dengan tipu muslihat dan di balik tabir moto yang samar, yang tidak diketahui bentuk sebenarnya:

“Persoalan sekulerisme telah dimunculkan pada salah satu rapat Majelis Pertama. Pada pertemuan hari itu, Musthafa Kamal yang memimpin Majelis. Tiba-tiba salah seorang ulama terkenal di Majelis naik ke mimbar, dengan gaya bahasa menyindir ia mulai berbicara, ‘Wahai kawan-kawan sekalian, sesungguhnya perkataan sekulerisme sudah ada dalam setiap bibir, tetapi aku –mohon maaf—tidak bisa memahami istilah ini.’

Mendengar ucapan itu, Musthafa Kamal selaku Pemimpin Majelis tidak dapat menahan diri. Ia segera memotong pembicaraannya dengan memukul meja sambil berkata, ‘Yang dimaksud dengan sekulerisme adalah kita hendaknya menjadi manusia wahai Syekh kami! Menjadi manusia!’ Inilah jawaban Musthafa Kamal terhadap jawaban Syekh.”

Sejak lama, Al-Qur’an memang –bukan hanya di Turki—menjadi “batu sandungan” bagi mereka yang tidak ingin diatur oleh isi dan kandungannya. Bagi mereka Al-Qur’an sangat membelenggu. Oleh karenanya, kaum sekuler banyak yang ‘mengekor’ dan ‘membebek’ kepada tradisi kaum kafir Quraisy di Mekah dahulu –kemudian dilanjutkan di Madinah al-Munawwarah. Kaum kafir Quraisy meminta Rasulullah s.a.w. agar “menukar” Al-Qur’an dengan kitab yang lainnya. Karena bagi mereka Al-Qur’an “mengekang” kebebasan jahiliyah. Mereka tidak bisa minum khamar; mereka tidak bisa lagi berjudi; mereka tidak bisa mengebiri “hak waris” dari kaum perempuan. Karena selama ini wanita menjadi komoditi yang digilir dan diwarisi.

Lihatlah apa yang dilakukan oleh tentara Amerika Serikat di Irak! Pasukan dari Pam Sam itu terbiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai “sasaran tembak atau latihan tembak-menembak”. Di penjara “biadab” Guantanamo, Al-Qur’an sudah biasa dimasukkan ke closed atau sekadar menjadi tissue untuk membersihkan sepatu para tentara di sana. Apakah itu yang dinamakan dengan “menjunjung tinggi” Hak Azasi Manusia (HAM)?

Masih segar dan hangat dalam memori umat Islam, bagaimana kebencian Greet Wilders dari Belanda. Anggota wakil rakyat liberal asal negeri Kincir Angin itu banyak memutar-balikkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dia bukan tidak mengerti keagungan Al-Qur’an, tapi karena “membenci” Al-Qur’an. Maka ayat-ayat yang benar pun menjadi “salah”. bagi orang yang sati tipe dengan Wilders yang salah bukan ilmu dan pengetahuannya, melainkan pemahamannya. Pemahamannya sudah “sakit kronis”. Bagi mereka tepat sekali dibacakan pepatah ini, ‘Kam min a’ibin qaulan shahihan, wa afatuhu min al-fahm al-saqim’. “Berapa banyak orang yang mencela perkataan yang benar, karena pemahamannya sudah sakit”.

Di Indonesia, orang-orang yang membenci Al-Qur’an pun semakin menjamur. Dimana-mana bermunculan para penghujat Al-Qur’an. Adagium dan diktum mereka pun bermacam-macam. Ada yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah ‘muntaj tsaqafi’, ‘cultural product’ alias “produk budaya”. Ada juga yang menyebut Al-Qur’an dari sampul depan sampai belakang “bukan” Al-Qur’an. Maka dia tidak tepat disebut sebagai firman Allah secara verbatim. Ada pula yang mengusulkan untuk menemukan Al-Qur’an “edisi kritis” (a critical edition of the Qur’an). Bahkan ada yang berani menyamakan Al-Qur’an dengan Bible. Karena keduanya “produk” sejarah. Sama-sama tidak sempurna dan sama-sama punya problem. Semuanya bermuara pada satu sungai: “sungai kebencian”. Meskipun kalau dilihat dan diteliti, pendapat mereka murni “jiplakan” dan “asimilasi” dari pemikiran dan ide orientalis Barat.

Babak kebencian terhadap Al-Qur’an tidak akan pernah berakhir. Ia akan terus berlanjut. Aku selalu meyakini bahwa: Nabi Muhammad memang lahir di samping Ka’bah, tapi jangan lupa bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab juga sama-sama lahir di Ka’bah. Artinya, dimana ada “kebenaran” di sana pula ada “kebatilan”. Namun, kita harus meyakini satu undang-undang yang sudah valid dari Allah: ‘wa qul ja’al haqqu wa zahaqal bathil, innal bathila kana zahuqan’ (Qs. Al-Isra’ [17]: 81). Kebenaran lah yang pertama kali muncul ke permukaan bumi, maka kebenaran pula yang akan bertahan. Bukankah Al-Qur’an berisi segala macam kebenaran? Dia turun dari Allah yang Mahabenar (al-Haqq); dibawa oleh malaikat Jibril yang selalu menyampaikan wahyu kebenaran; diturunkan ke dalam hati sang Nabi Kebenaran (Muhammad s.a.w.); diperuntukkan kepada umat yang cinta kebenaran. Maka, kebenaran akan selalu dibela dan dimenangkan. [Q]

 

<<Kembali ke posting terbaru

"Berpikirlah Sejak Anda Bangun Tidur" (Harun Yahya)