Tuesday, September 05, 2006

Al Qur’an itu Penawar

Dalam bukunya Yusuf 'Alahi Al-Salam 'Amru Khalid mengatakan bahwa kata syifa' (penawar) yang terdapat di dalam Alquran hanya menunjukkan kepada dua hal, pertama, madu. Hal ini berdasarkan firman Allah yang berbunyi: "...di dalamnya (madu) terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia" (QS. Al-Nahl (16): 69). Kedua, Alquran. Hal ini didasarkan kepada ayat Alquran sendiri yang terdapat di dalam Surat Al-Isra' ayat 82: "Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat..." ('Amru Khalid, 2003: 12).
Seorang ulama Al-Azhar, Khairi Makawy mengatakan bahwa Allah swt. menyifati Alquran dengan al-syifa', yang ditafsirkan oleh para ulama dengan 'hilangnya rasa sakit' (zawal al-maradh) dan terhindar dari berbagai macam penyakit.
Saudaraku! Kepenatan badan dan kelelahan tubuh akibat kerja yang terlalu keras akan menimbulkan tubuh yang tidak sehat. Semua terasa tidak enak, tidak nyaman dan bisa menghilangkan konsentrasi. Semua itu membutuhkan 'penawar' agar dapat kembali pulih seperti sedia kala. Masalah penyakit badan (tubuh luar), Alquran menjelaskan bahwa penawarnya terdapat di dalam 'madu'. Ini tidak diragukan lagi, karena hal itu sudah dibuktikan oleh riset dan penelitian ilmiah.
Nah, bagaimana halnya kalau yang penat itu adalah jiwa, yang lesu dan tidak sehat itu adalah hati. Rasa bimbang, keraguan (al-syakk) dan rasa was-was adalah penyakit hati yang tidak bersih dan tidak istiqamah. Allah swt. menjelaskan kepada kita bahwa penawarnya adalah 'Alquran'. Sungguh! Alquran adalah 'penawar' penyakit jiwa, penyakit hati. Hati yang kotor, busuk dan penuh dengan tipu daya akan mengakibatkan anggota badan kita bekerja tidak normal dan selalu salah. Yang akan timbul adalah kebencian kepada sesama, wajah selalu murung, bermuram durja, dengki (hasad), cemburu dan mudah sakit hati. Semua itu harus cepat diberikan penawarnya, yakni Alquran. Yang pasti, seluruh penyakit hati itu tidak ada yang menguntungkan, bahkah malah akan semakin merusak pemiliknya.
Dr. Yusuf Al-Qaradhawi di dalam bukunya Kaifa Nata'amal Ma'a Al-Qur'an Al-'Azhîm? (Bagaimana Kita Berinteraksi dengan Alquran yang Agung?) menjelaskan bahwa salah satu tujuan diturunkannya Alquran adalah mengajak untuk menyucikan (membersihkan) jiwa manusia (tazkiyah al-nafs al-basyariyah). Karena menurut beliau, tidak ada kesuksesan di dalam dunia dan akhirat kecuali melalui penyucian jiwa (al-nafs) tersebut. "Dan (demi) jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (QS. Al-Syams (91): 7-10).
Ini sejalan dengan Hadits Rasulullah saw. yang berbunyi; "Sesungguhnya di dalam jasad (manusia) terdapat segumpal darah (al-mudhghah). Jika ia baik, maka akan baik seluruh jasadnya. Namun, jika ia rusak, maka akan rusak pulalah seluruh jasadnya. Itulah 'hati'.
Saudaraku! Hati adalah 'raja'. Anggota tubuh kita adalah 'prajuritnya'. Kebaikan prajurit tergantung dari baiknya keadaan sang raja. Kita jadi teringat akan kisah Lukman Al-Hakim yang memberikan bagian yang 'terbaik' dan 'terjelek' dari binatang kurban. Kedua-duanya ia berikan kepada majikannya dengan satu benda yang sama; hati dan lisan (lidah).
Hati kita yang selalu gelisah, tidak tenang dan selalu menyimpan rasa benci dan dendam kepada orang lain, adalah hati yang belum menemukan 'penawar'nya. Alquran adalah 'mutiara' dalam hidup kita. Ia adalah pedoman bahtera dan haluan hidup kita. Dia adalah 'cahaya' dalam kegelapan. Sayang! Kita semakin hari semakin jauh dari cahaya Alquran itu. Alquran menganjurkan kita untuk tidak memakan harta anak yatim, kita malah sering memperebutkan 'hak mereka'. Alquran melarang kita untuk tidak memakan harta orang lain dengan tidak benar, kita malah gemar menyerobot milik orang lain. Alquran menyuruh kita untuk menjauhi perbuatan 'zina', malah faktor pendukung zina semakin bertaburan. Mata kita semakin banyak dijejali dengan tayangan yang tidak mendidik dan amoral.
Ahh...kita semakin jauh dari 'penawar'. Sebaliknya kita bukannya mencari penawar, tapi menambahkan penyakit ke dalam hati dan jiwa kita. Penyakit itu pun semakin akut dan kronis. Hati adalah cermin Ilahiy, maka Allah tidak akan melihat hati kita kalau hati kita semakin kotor. Cahaya sang 'penawar' tidak akan mampu menembus hati yang semakin kotor. Hati yang sudah semakin hitam terkena debu dunia yang tidak sehat, terkena polusi budaya yang semakin sakit, terkena kotoran kebebasan berekspresi yang kebablasan.
Kita semakin jauh dari ajaran Kanjeng Nabi saw. Kita tinggalkan pesan-pesan junjungan kita. Kita lari dari rambu-rambu dan akhlak Quraniy. Kita lebih senang mengumbar hawa nafsu, memuaskan diri dengan hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. Kita jadikan Alquran hanya sebatas 'hiasan' dan aksesoris 'meja kerja' atau 'ruang tamu'. Maka wajar kiranya kalau Nabi saw. pernah mengadu kepada Allah swt.; ... "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran ini sesuatu yang tidak diacuhkan." (QS. Al-Furqan (25): 30).
Saudaraku! Kita harus lebih dekat lagi dengan Alquran. Kita harus merubah cara kita berinteraksi dengan Alquran. Mari kita 'hampiri' ia, kita dekati, kita tadabburi ayat-ayatnya, kita pahami dan renungkan pesannya dan kita aplikasikan ajarannya dalam kehidupan kita. Mudah-mudahan penyakit hati dan jiwa kita benar-benar menemukan 'penawarnya', karena 'penawarnya' ternyata tak jauh dari kita. Mungkin kita saja yang tidak 'open' dan acuh tak acuh dengan penawar Ilahiy itu. Semoga.

 

<<Kembali ke posting terbaru

Allah; Cahaya Langit dan Bumi

Publikasi: 31/05/2005 09:29 WIB

eramuslim -

Siapapun akan mengatakan bahwa dalam kegelapan kita sangat membutuhkan "penerang", dian atau pelita. Dalam gelap-gulita: ketika bintang-gemintang berkilauan, sang purnama muncul dengan sinarnya merupakan nikmat besar bagi para nelayan di tengah laut. Bukan hanya menambah keindahan alam semesta, juga menandakan bahwa Allah mengerti kebutuhan hamba-Nya: kegelapan itu harus diberi penerang.
"Atau seperti gelap-gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak: yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap-gulita yang tindih-bertindih, apabila ia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya. Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikitpun." (Qs. An-Nur [24]: 40).

Tidak dapat dibayangkan seandainya jalan-raya (di malam hari) tidak dihiasi oleh rambu-rambu lalu-lintas. Apa yang bakal terjadi? Apalagi mobil yang dikemudikan sang sopir tidak memiliki lampu. Apa yang akan dirasakan olehnya? Rasa takut segera muncul, menghantui batinnya. Jangan-jangan ada yang "menabrak" dari belakang. Atau, ada yang "menyerempet" dari samping. Itu adalah "cahaya" di dunia. Cahaya temporal: tidak kekal dan tidak abadi. Karena bahannya juga serba temporal, tidak abadi.
Ada cahaya yang abadi, Allah. Allah adalah "cahaya langit dan bumi". Dia sendiri yang menyatakan dalam kitab suci-Nya:
"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya laksana lampion (misykat) yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, (dan) kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur juga tidak di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Qs. An-Nur [24]: 35).

Itulah Allah. "Sang Cahaya". Cahaya yang menerangi jagat raya: langit dan bumi beserta isinya. Tidak ada satupun yang tidak mendapat pancaran cahaya-Nya. Tumbuh-tumbuhan, hewan, apalagi manusia: makhluk yang paling butuh kepada cahaya-Nya.
Dalam rongga dada manusia terdapat 'segumpal darah', hati. Hati itu begitu gelap, hati jahiliyah. Hati yang tidak mengenal Tuhan Yang Esa. Hati yang hanya mengenal politheisme: menyembah tiga tuhan, pepohonan, bebatuan dan roh nenek moyang. Sungguh gelap hati itu. Ia kemudian diterangi oleh cahaya tauhid-Nya. Allah itu satu:
"Fa'lam annahu laailaaha illa l-Allah" (Ketahuilah bahwa Allah itu satu). (Qs. Muhammad [48]: 19).

Ketika jiwa manusia mengembara di hutan ke-jahiliyah-an, Allah menurunkan cahaya-Nya, Al-Quran. Ia titipkan cahaya-Nya (Al-Quran) itu kepada cahaya-Nya (nabi Muhammad saw). Al-Quran adalah cahaya Allah, karena ia memberikan cahaya hidayah dari langit:
"...tetapi Kami mejadikan Alquran itu cahaya; yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami..." (Qs. Asy-Syura [42]: 52).
Kanjeng Nabi adalah "cahaya Allah", karena ia membawa penerangan kepada manusia: dengan hidayah yang dibawa dari sisi "cahaya agung", Allah swt:
"Dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi..." (Qs. Al-Ahzab [33]: 46).

Tidakkah orang Arab adalah orang-orang primitif: buta aksara dan chauvistik dan suka membangga-banggakan nenek moyang. Mereka adalah para penghuni gurun pasir yang terbelakang. Namun ketika cahaya Allah (Muhammad) itu datang, semuanya jadi berubah. Padang pasir pun berubah menjadi "sumber cahaya kebenaran". Dari sanalah memancar cahaya tauhid ke seluruh penjuru dunia.

Hati yang diterangi oleh cahaya Alquran adalah hati yang "bercahaya". Jiwa yang mengikuti petunjuk Nabi saw adalah jiwa yang "bersinar". Akal yang berpikir dengan positif dan sehat, adalah akal yang bercahaya. Hati yang masih menyimpan dendam kesumat, dengki, iri dan hasad adalah hati "jahiliyah": hati yang masih gelap. Jiwa yang masih suka memberontak kepada kebenaran, menentang kebijakan, tunduk kepada hawa nafsu dan suka menentang Allah, adalah jiwa yang masih jauh dari cahaya Allah.
Kita bersyukur tidak masuk kepada golongan Abu Jahal dan Abu Lahab cs. Mereka begitu dekat dengan kedua cahaya itu (Alquran dan nabi Muhammad saw), namun mereka tidak dapat merasakan sentuhan cahayanya. Mereka mengatakan bahwa Alquran adalah perkataan penyair: Muhammad. Mereka mengira bahwa Muhammad adalah tukang tenung. Mereka dicela oleh Allah karena hati mereka tidak cukup luas untuk (dapat) menampung kedua cahaya itu:
"Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. Dan Al-Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung, sedikit sekali kamu yang mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada yang mendustakan(nya). Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Agung." (Qs. Al-Haqqah [69]: 40-52).

Siapa yang menjauhi cahaya Allah, ia akan semakin teralienasi dari cahaya kehidupan. Siapa yang semakin jauh dari Alquran dan petunjuk Nabi saw, ia tidak jauh beda dengan Abu Lahab dan Abu Jahal cs. Bukankah Alquran adalah cahaya yang dipersembahkan oleh Allah kepada kita? Tidakkah Nabi saw cahaya: yang membawa cahaya (Al-Quran) langsung dari sumber cahaya (Allah)? Tidak ada cahaya yang mampu menerangi kegelapan jagat-raya, selain Allah. Dia-lah cahaya langit dan bumi.

Mari kita persiapkan diri kita untuk menghampiri cahaya Allah. Mudah-mudahan kita diberi kemudahan untuk menerima pancaran siraman cahaya-Nya. Semoga cahaya itu dapat bersinar terang di hati dan jiwa kita. Sehingga ia benar-benar menjadi "pelita" dalam kehidupan kita. Wallahu a'lamu bi al-shawab
Ibnoe Dzulhadi

 

<<Kembali ke posting terbaru

"Berpikirlah Sejak Anda Bangun Tidur" (Harun Yahya)